Sinergi Babel.Id – Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menggelar Diseminasi Laporan Perekonomian Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan I 2026 dengan tema Road to Bangka Belitung Economic Forum (BEF) 2026. Kegiatan tersebut berlangsung di Ruang Tanjung Kelayang Kantor Perwakilan BI Babel, Kamis (12/3/2026).
Kepala Perwakilan BI Babel, Rommy Sariu Tamawiwy, mengatakan kegiatan diseminasi ini merupakan bagian dari peran Bank Indonesia sebagai economic adviser bagi pemerintah daerah sekaligus wadah komunikasi untuk membahas perkembangan ekonomi Bangka Belitung.
Menurutnya, forum tersebut juga menjadi ruang diskusi bersama berbagai pemangku kepentingan untuk merumuskan strategi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
“Ini menjadi momen kita berkumpul bersama untuk berdiskusi tentang perkembangan ekonomi di provinsi kita tercinta. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari rangkaian menuju agenda utama di akhir tahun, yaitu Bangka Belitung Economic Forum,” ujar Rommy.
Ia menjelaskan, diseminasi laporan perekonomian akan dilaksanakan setiap triwulan sebagai rangkaian road to BEF, sebelum puncaknya digelar pada akhir tahun.
Pada triwulan pertama 2026 ini, tema yang diangkat adalah Outlook Perekonomian Kepulauan Bangka Belitung Tahun 2026: Prospek, Risiko, dan Arah Kebijakan.
Rommy menilai tema tersebut relevan di tengah dinamika dan ketidakpastian ekonomi global yang juga memengaruhi kondisi domestik.
Ia menekankan pentingnya semangat Optimisme, Komitmen, dan Sinergi (OKS) dalam mendorong kebangkitan ekonomi daerah.
“Bangka Belitung memiliki landasan yang kuat untuk optimistis. Namun optimisme itu harus diikuti komitmen bersama dan sinergi seluruh pihak,” katanya.
Rommy juga memaparkan bahwa perekonomian Bangka Belitung menunjukkan pemulihan yang signifikan setelah mengalami dinamika pada 2024.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, pertumbuhan ekonomi Bangka Belitung pada triwulan IV 2025 tercatat sebesar 4,54 persen, sementara secara keseluruhan tahun 2025 mencapai 4,09 persen, meningkat dibandingkan tahun 2024 yang hanya tumbuh 0,77 persen.
Ia menyebut sektor pertanian dan perdagangan masih menjadi kontributor utama pertumbuhan ekonomi daerah. Selain itu, potensi besar juga terlihat dari sektor perikanan, pariwisata, ekonomi syariah, serta perkembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi didorong oleh konsumsi rumah tangga yang tetap kuat serta peningkatan investasi.
Sementara dari sisi inflasi, Bangka Belitung masih berada dalam rentang sasaran nasional sebesar 2,5 persen ±1 persen dengan inflasi tercatat sekitar 3,31 persen.
“Kondisi ini menunjukkan daya beli masyarakat terus bergerak dan ekonomi daerah semakin membaik,” jelasnya.
Meski demikian, Rommy mengingatkan adanya tantangan pada komponen volatile food, khususnya terkait pasokan pangan yang dipengaruhi berbagai faktor, termasuk bencana yang melanda sejumlah daerah produsen di Sumatera.
Untuk itu, BI bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus memperkuat berbagai langkah pengendalian inflasi, termasuk mendorong gerakan pemanfaatan pekarangan untuk mendukung ketahanan pangan keluarga.
Secara nasional, upaya tersebut juga didukung melalui program Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) yang terus digencarkan di berbagai daerah.
Dalam forum tersebut, para peserta juga akan mendapatkan paparan terkait perkembangan ekonomi global, nasional, hingga daerah dari sejumlah narasumber, termasuk ekonom dari Bank Danamon, pemerintah daerah, serta perwakilan BPS.
Selain itu, BPS juga akan menyampaikan rencana pelaksanaan sensus ekonomi yang dilakukan setiap 10 tahun sekali.
Rommy berharap hasil dari diseminasi laporan perekonomian ini dapat menjadi dasar perumusan kebijakan yang lebih terarah dan efektif bagi pemerintah daerah dalam mendorong transformasi ekonomi Bangka Belitung.
“Hasil diskusi dan pemikiran dari forum ini akan menjadi bagian dari rekomendasi bagi pemerintah daerah dalam menentukan arah kebijakan ekonomi ke depan,” ujarnya.
Ia menambahkan, kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan masyarakat menjadi kunci untuk menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru di Bangka Belitung.
“Kita semua yang hadir di sini sedang mengambil bagian dalam upaya besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Bangka Belitung yang lebih kuat dan berkelanjutan,” pungkasnya.








